amalan amalan hati

Sabtu, 25 Juni 2016

KISAH THARIQ BIN ZIYAD SANG PENAKLUK ANDALUSIA

PADA Ramadhan 97 Hijriyah pasukan muslim di bawah komando panglima Thariq bin Ziyad mendarat di pantai karang Andalusia ( Spanyol ). Ini dilakukan Thariq bersama 7.000 prajuritnya sebagai upaya menindaklanjuti perintah dari Musa bin Nushair untuk membebaskan semenanjung Andalusia dari cengkeraman kerajaan Visigoth di bawah pimpinan Raja Roderick yang zalim. Saat mendarat, Thariq beserta pasukan muslimin pimpinannya itu langsung dihadang oleh 25.000 prajurit Visigoth.


Pada mulanya kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad yang sebagian besar terdiri dari bangsa Barbar itu, membuat heran Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena mereka datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut. Thariq menyeberangi selat Andalusia yang jaraknya 13 mil dengan perahu-perahu pemberian Julian, gubernur Ceuta di Afrika Utara, yang bersekutu dengan kaum muslimin untuk menentang Raja Roderick, penguasa kerajaan Visigoth di Andalusia.

Namun, yang fenomenal adalah, tindakan yang diambil oleh sang panglima Thariq bin Ziyad yang memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan kaum muslimin. Sebuah langkah yang sampai sekarang dicatat dalam sejarah sebagai suatu bentuk keberanian dan keyakinan yang tiada banding, yang hanya bisa dilakukan atas dasar keimanan yang besar dan keyakinan akan pertolongan Allah Swt di tengah suasana pertempuran dan kondisi pasukan muslim yang saat itu sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.



SIAB BERJIHAD

Sebagai seorang panglima yang perkasa dan sangat disegani oleh para prajuritnya, Thariq bin Ziyad pun menyampaikan satu pidato panjang yang membuat jiwa kaum muslimin siap berjihad menggelora. Sedikit kutipan pidato sang panglima Thariq yang luar biasa itu antara lain: ''Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina...''

Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!''

Mengakhiri pidatonya, Thariq berteriak kencang di hadapan prajuritnya: ''Perang atau mati!'' Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh prajuritnya. Para prajurit gagah berani yang siap tempur itu pun membalas teriakan panglimanya yang perkasa dengan pekikan ''Allahu akbar. Allah akbar. Allahu Akbar...!


Pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12.000 personil setelah ada tambahan 5.000 personel pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai ( Rio ) Barbate. Peperangan di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya berhasil dipukul mundur.

Akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh Thariq bin Ziyad beserta pasukan kaum muslimin. Raja Roderick sendiri tewas dalam pertempuran tersebut, Andalusia pun terbebas. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang, dan dia di duga tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.

Kemenangan telak dalam pertempuran di Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.

Pasukan Thariq bin Ziyad yang sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke Toledo, Ibukota Visigoth ( Gotik Barat ). Di jalan ke Toledo itu mereka menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima kekuasaan Muslim atas wilayah itu. Dengan cepat Thariq berusaha menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan al-Andalus ( Andalusia ) itu.


MENUJU TOLEDO

Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di dalam perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaan tersebut. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah. Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal yang tak suka kekuasaan bangsa Gotik Barat di negaranya. Thariq terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta rampasan yang banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo.

Di sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud. Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya, merundingkan strategi perang. Semuanya berpendapat melaksanakan perintah Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Thariq mengabarkan keputusannya ini kepada Musa bin Nushair disertai alasan-alasannya.

Ketika pesan Thariq sampai, Musa langsung berangkat ke Spanyol pada Juni 712 M dengan membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang pernah disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.

Warga Sevilla tetap tak rela terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim disana. Setelah panglima Musa bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim. Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.

Perjalanan hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang agung telah menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui penaklukkan Spanyol ( Andalusia ). Nama pejuang Islam ini begitu harum, hingga diabadikan di semenanjung perbukitan karang setinggi 425 meter tempat pasukan Thariq mendarat pertama kali di pantai tenggara Spanyol, yaitu Gibraltar atau Jabal Thariq.

SEKIANLAH KISAH THARIQ BIN ZIYAD SANG PANAKLUK ANDALUSIA

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : KISAH THARIQ BIN ZIYAD SANG PENAKLUK ANDALUSIA

0 komentar:

Posting Komentar